ADU99BLOG.WORDPRESS.COM CERITA DEWASA MEMUASKAN IBU MAJIKAN Aku (Anis) pria 39 tahun.

IBU MAJIKAN

MEMUASKAN IBU MAJIKAN

Ini satu bulan terakhir, tiba-tiba aku teringat ketika aku baru saja selesai menyelesaikan studi saya di sekolah tinggi pada tahun 1984 di salah satu kecamatanku modal.

Sebut saja Kabupaten KH di satu kabupaten di provinsi ini.

Ketika saya menghadapi masalah yang sama dengan masalah saat ini yang bentrok dengan keluarga.

Hanya ketika itu, aku bentrok dengan orang tua saya, yang saat ini saya bentrok dengan istri saya.

Cerita, hanya masalah sepele yang orang tua saya ingin saya untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi aku bersikeras untuk mendaftar di salah satu universitas di Makassar.

Karena tidak didukung oleh orang tua, saya terpaksa meminjam uang dari tetangga adalah Rp 10.000, untuk biaya mobil ke Makassar dan sisanya membuat camilan.

Karena saya tidak punya teman di kota Makassar, jadi saya terpaksa menghabiskan malam di sebuah stasiun bus sambil mencari kontak sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan secepat mungkin.

Bekerja halal apapun.

Video Di Bawah Ini :

Adik Ipar

Setelah dua hari aku bergaul dengan terminal orang, akhirnya bertemu dengan seorang tukang batu yang berada di merenovasi dinding dan lantai dari penumpang menunggu.

Saya mengajukan diri untuk menjadi buruh di tukang, dan setelah saya mengatakan kepadanya masalah saya adalah nyata, ia menerima tawaran saya itu.

Saya menawarkan gaji Rp.2.000 / hari tanpa makan dan penginapan tertutup.

Saya langsung setuju untuk itu, karena jika tidak, aku akan mati kelaparan mengingat uang jajanku telah habis.

Tapi saya minta gaji dapat diterima setiap hari dan pembangun setuju bahwa juga.

Setelah lima hari aku bekerja dengan tekun dan bermalam bersama dengan driver pada terminal bus malam, saya diperkenalkan dengan nasi kaya pengusaha oleh salah satu sopir kenalan saya bus di terminal.

malam itu aku diantar ke salah satu rumah besar di Jl. SA. Aku gemetar dan tampak norak ketika memasuki rumah yang serba mewah.

Jika tidak salah, ada tujuh mobil dan dua truk dan tiga mobil rusa mengambil mobil di parkir di depannya.

Seorang pembantu pria setengah baya diantar saya duduk di ruang tamu.

Segera gadis baik pembantu atau keluarga pengusaha itu membawa tiga cangkir kopi dan kue-kue.

Kue karena rasanya yang sering dimakan di desa saya.

Setelah kami duduk kurang dari 2 menit di ruang tamu, tiba-tiba: “Iyana eddi muaseng makkulliah elo na de ‘gaga ongkosona (Ini salah satu yang berarti akan kuliah tapi tidak mampu?)?”

MejakuQQ

Tanya seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya dengan perawakan besar, perut gendut dengan warna kulit hitam kecil.

Dia menggunakan bahasa yang sama Bugis bahasa sehari-hari saya gunakan di desa saya. “Iye ‘puang. Iyana eddi utihirakki (Ya benar.

Ini adalah orang yang saya antar)” jawab sopir yang mengendarainya.

Sementara di rumah, kami berbicara dengan menggunakan bahasa daerah Bugis.

Namun, untuk menyederhanakan dan memperjelas cerita ini, harus saya gunakan saja bahasa Indonesia tanpa mengurangi percakapan kami, apalagi bahasa kita berbicara adalah campuran dari Indonesia dan Bugis. “Oh ya, hanya bisa digunakan untuk makan anak saya, siapa tahu teman Anda tidak makan malam” katanya pada sopir saat ia diantar kita ke ruang dapur.

“Ayo Nis, kami berdua makan dulu dan kemudian berbicara lagi” sebut sopir itu seolah-olah ia digunakan di rumah itu. “Yah ..

Terima kasih Pak. Kurasa aku tidak lapar”

Aku pura-pura puas, meskipun aku sangat lapar untuk makan malam belum.

“Ayo .. Ayo .. Jangan malu. Tidak ada seorang pun di rumah ini. Mari sedikit di makan”

kata sopir bersama dengan pemilik rumah sambil berdiri membawa saya ke ruang makan.

Ternyata di atas meja telah disediakan makanan lengkap seperti meja itu tidak pernah kosong dari makanan.

Setelah kami duduk di meja, aku berbelok ke kiri dan kanan di dalam ruangan dan melihat tiga perempuan di dalam rumah.

Salah satunya adalah mencuci piring. Dia cukup tua bahwa jika perkiraan usia sekitar 50 tahun ke atas.

Menjadi yang lain adalah berbaring di tempat tidur sambil membaca koran. Ketika diperkirakan usia antara 30 sampai 40 tahun.

Namun wanita lain asyik menonton TV sambil bersandar pada wanita berbaring rosban sambil membaca koran ini. Dia tampak muda.

Jika perkiraan usia sekitar 17 sampai 25 tahun.

Tampaknya dia adalah seorang gadis. Selama makanan kami makan di atas meja, kita tidak pernah berbicara sama sekali.

Tapi aku merasa diperhatikan sejak awal oleh setenga wanita tua yang sedang membaca koran. Dia sesekali mengintip saya memegang kertas.

Lebih aneh lagi, setiap kali kita bertabrakan pandangan, wanita itu melempar senyum manis. Saya tidak mengerti titik, tapi aku masih menjawab dengan senyum tanpa diketahui oleh driver yang teman saya makan.

Kalau bukan karena sopir yang berhenti makan pertama, saya tidak akan berhenti makan dan aku lebih nyaman duduk lama di kursi makan itu melempar senyum berkat wanita setengah baya.

Setelah kami duduk bersama dengan sopir itu di ruang tamu, seorang pria besar bertulang itu duduk di depan saya dan berkata, “Kau dari daerah mana anak itu dan di mana orang tua Anda?” Tanya pria itu.

“Dari Tulang Pak. Orang tua saya tinggal di desa” jawab saya. “Anda tinggal di kota atau desa Bone?” Dia bertanya lebih serius. “Di desa-desa jauh dari Sir kota,”

kataku lagi. “Aku pernah mendengar permasalahanmu dari sopir ini. Jika Anda ingin tinggal bersama kami, saya siap untuk membayar kuliah ketika Anda lulus”

“Terima kasih banyak Pak atas budi kepada ayah.

Saya bersyukur bisa bertemu dengan ayah “kata saya dengan kerendahan hati. “Hal ini terjadi bahwa kami juga asli tapi Bugis Bugis Sinjai.

AGEN BANDARQ ONLINE

MejakuQQ

Bahkan istri pertamaku tinggal di Kota Sinjai” katanya terus terang. “Kalau begitu, saya sangat beruntung untuk pergi ke Makassar,” kata saya.

Setelah kurang lebih 3 jam kami berbicara, orang itu mengatakan kepada kita untuk masuk ke salah satu kamar depan untuk beristirahat.

Tapi sopir itu bahkan mengatakan selamat tinggal kepada teman saya dengan alasan pagi akan menemukan penumpang. Saya mengerti dan orang itu kemudian saya mengetahui bahwa dia adalah master dan kepala rumah tangga di keluarga, memungkinkan pengemudi harus kembali ke terminal.

Sebelum master meninggalkan untuk mengurus bisnisnya pada hari berikutnya, sambil makan makanan di pagi hari dengan istrinya kemarin terlihat membaca koran dan satu-satunya anak di rumah kemarin menonton TV di ruang makan, ia memperkenalkan seluruh keluarga dan pembantu di rumah, termasuk pengemudi.

Iklan